Rabu, 21 Oktober 2009

Belajar Menjadi Sempurna

Nobodys Perfect

Sering kita mendengar ungkapan " Tak ada manusia yang sempurna " sebuah ungkapan yang kelihatannya benar tapi malah sering menjadi alasan bagi kita ketika berbuat salah ataupun gagal. Bahkan secara tak sadar kita dengan mudahnya mengatakannya saat berada dalam titik terendah dalam hidup..

Sempurna bukan berarti tidak pernah gagal atau salah. Menjadi sempurna adalah sebuah proses. Proses belajar dari kesalahan dan kegagalan yang kita alami, juga proses belajar dari kebodohan2 yang kita lakukan. .

Menjadi sempurna berarti kita juga harus mempunyai motivasi yang tinggi. tak kenal kata menyerah dengan kondisi dan keadaan yang selalu membelit. yang terfikir adalah, selalu mencari jalan keluar dan berusaha menjadi pemenang dalam setiap pertandingan. juga tak mencari kambing hitam dalam setiap kegagalan dan kesalahan yang di alami. karena kesalahan mestinya menjadi guru terbaik untuk kita..

Untuk menjadi sempurna, kita dituntut mampu mengeksplorasi kemampuan dan potensi diri yang masih terpendam untuk terus menajadi lebih baik. Potensi akan semakin terasah ketika masalah muncul atau dimunculkan..

dan Menjadi sempurna menuntut kita untuk terus belajar, belajar dan memperbaiki diri. Sekali proses ini terlewati, kita akan menjadi smpurna pada tingkat itu. tapi kita akan belajar lagi menjadi sempurna pada tahapan atau permasalhan lain. Karena hidup adalah sebuah perjalanan menjadi sempurna pada tiap tingkatan hidup..

Mari kita belajar menjadi sempurna..

Rabu, 22 Juli 2009

seputar Aceh

Aceh, 5 Year After Tsunami

Masjid Besar Aceh
26 Desember 2004, bisa jadi menjadi hari yang tidak terlupakan bagi masyarakat Aceh. terjadi gempa bumi dahsyat di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh, pada pukul 7:58:53 WIB. Pusat gempa terletak pada bujur 3.316° N 95.854° E kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer. Gempa ini berkekuatan 8,9 menurut skala Richter dan merupakan gempa bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini yang menghantam Asia Tenggara..

tapi musibah ini sudah 5 tahun berselang. Saat ini pemerintah setempat fokus memperbaharui fasilatas dan sarana umum, mempercantik kotanya kembali. gw berkesempatan jalan ke kota ini tahun 2009.


kapal pembangkit tenaga diesel. yang berada 5km di tengah laut ulelhe. tertambat di atas perumahan warga. saat ini dibuka untuk umum sebagai tempat wisata.

Museum Tsunami

Museum ini didirikan selain sebagai monumen mengenang tsunami, juga disiapkan sebagai tempat evakuasi jika terjadi lagi bencana ini di kemudian hari. interior kelas dunia, eksterior kelas bintang lima.

Museum Tsunami
Museum Tsunami




 Masjid Baiturahman

Beberapa foto di sekitar lingkungan masjid baiturahman, yang gw jujur cukup kagum dengan bagaimana masyarakat disini menjalankan ibadah. dan memang Mekahnya Indonesia gw rasa pantas disematkan di daerah istimewa yang satu ini

Masyarakat yang Religius
Sholat



Toleransi

 Pantai

Dengan presentasi daerah terparah terkena dampak tsunami, tentu saja membuktikan kalo di provinsi di ujung pulau sumatera ini penghasil pantai kelas wahid. Pasir Putih, Air Bersih, dan masih liar. for the last reason, yang paling penting menurut gw menilai pantai. hehaha :D

Pantai Lampuu - Ulee Kareng
Ceria kan mereka ? :)

 Kopi

Masjid sudah, pantai sudah, kapal nyangkut sudah, yang terahir yang gw capture dari perjalanan ini adalah kopi. yaa. Selain ganja, Aceh juga terkenal karena kopinya. Dan disini, di kopi solong yang sampe punya merchandise kaos sendiri kaya starbuck, wajib lw kunjungi saat berkunjung ke Aceh. Kopinya berkelas blm kalah dibanding kopi luwak lampung, atau starbuck kelas mall GI atw PI. hehe :D

Kopi Solong



Senin, 06 Juli 2009

Monolog Ronggeng Dukuh Paruk - Happy Salma

Srinthil#1
 Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pendukuhan yang kecil, miskin, terpencil, dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya, dukuh itu merasa kehilangan jati diri. Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pejabat-pejabat desa maupun kabupaten..

Happy Salma@Srinthil
Happy Salma@Srinthil
Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan. Hanya karena kecantikannyalah Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa di penjara itu. Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itu setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. Ia tak ingin lagi melayani lelaki mana pun. Ia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya, sepercik harapan timbul, harapan yang makin lama makin membuncah. Tapi, ternyata Srintil kembali terempas, kali ini bahkan membuat jiwanya hancur berantakan, tanpa harkat secuil pun...

Happy Salma @Srinthil
Happy Salma@srinthil























Sedikit ringkasan dari novel ronggeng dukuh paruk karya Ahmad Tohari, yang pada malam itu dipentaskan monolog oleh Happy Salma. Totaly Awesomee. performny total, ruar biasa :)

Minggu, 26 April 2009

FOTOGRAFI = kedewasaan


catatan yang menurut saya menarik, sebagai pembelajaran atau introspeksi..

diunduh dari indonesianphotographer dari beliau H. Boedihardjo

FOTOGRAFI = Kedewasaan

Mungkin Anda pernah merasa kesal karena orang lain tidak menghargai Anda. Atau, barangkali Anda juga sering marah karena orang lain tidak memerhatikan Anda. Sepertinya, saling menghormati, menghargai dan tidak mencibirkan karya orang lain, seolah menjadi sesuatu yang terlalu mewah untuk dimiliki dan temui saat ini. Padahal, suka atau tidak, kita hidup saling berinteraksi dengan orang lain.

Saya bukan termasuk pengamat dunia fotografi. Tapi saya mencoba untuk berpendapat dan mengatakan berdasarkan pengalaman yang sudah saya alami selama kurang dari tiga puluh tahun bergelut di dunia fotografi. Sejak pertamakali saya memantapkan diri menggeluti dunia ini, perkembangan fotografi di Indonesia hingga kini sungguh memprihatinkan. Itu terlepas dari fotografer profesional atau non profesional.

Sekarang ini, banyak fotografer kita lebih mengembangkan paradigmanya (baca: pola berpikir atau cara pandang) masing-masing untuk menjalani profesinya melalui lensa kepentingan, ketimbang kegentingannya. Akibatnya, tak ada lagi ruang untuk saling menghormati dan menghargai sesama fotografer.

Meski ada hal tersebut, tapi hanya sebatas dalam satu komunitas saja. Banyak sekali penghargaan kepada fotografer itu diberikan di dalam kelompoknya sendiri. Mereka saling memuji di dalam kelompok dan sangat sempit pola berpikirnya. Bila ada fotografer lain menghasilkan karya bagus di luar kelompoknya, mereka dengan cepat berlomba-lomba untuk mencibirnya dengan nada minus.

Mengubah mindset fotografer
Menilai hasil karya orang lain sungguh mudah. Tapi, benarkah pendapat kita itu? Seorang fotografer bila ingin menilai karya orang lain, seharusnya berpikir dengan rasa terlebih dahulu. Karena seorang fotografer berpikir tanpa didahului dengan rasa, berarti fotografer itu tidak memiliki pendewasaan dalam berpikir. Permasalahannya adalah, benarkah pujian dan menghargai karya sesama fotografer dalam sebuah komunitas itu berangkat dari hati yang tulus?

Menurut pengalaman saya, hal itu hanyalah sebatas topeng belaka. Kelihatannya kumpulan dari fotografer itu kompak dalam community-nya. Tapi dibelakangnya mereka saling bersaing dan membandingkan. Ya, layaknya orang menjual “pompa dragon” yang melakukan praktik bisnis fotografi dengan cara menjatuhkan dan bersifat fisik semata. Baginya, sukses mendapatkan sebanyak-banyaknya materi adalah tujuan utamanya meski harus dengan cara seperti penjual “pompa dragon”. (Dahulu di pasar Senen, Jakarta, sepanjang jalan banyak sekali orang menjual pompa dragon dengan memberi label “paling murah”. Padahal, disamping kiri-kanannya juga menjual pompa dengan merk dan kualitas yang sama)

Tapi apakah dengan cara seperti itu kesuksesan diraih? Melihat kondisi seperti ini saya menilai, dunia fotografi itu dunianya “iri”. Atau kalau boleh saya meminjam istilah Gus Dur, dunia fotografi di Indonesia sama halnya dengan Dunia Taman Kanak-kanak. Padahal, kita itu hidup dalam satu atap rumah yang namanya fotografi. Kita hidup bukan untuk saling bersaing. Tapi kita ada untuk saling melengkapi.

Sebenarnya, semua itu bermuara pada cara pandang, pola pikir dan komitmen rasa fotografer kepada profesinya. Sementara ini, kebanyakan para fotografer kita yang sudah lama menggeluti dunia fotografi, nyaris tidak memiliki kedewasaan dalam pola berpikir. Kebanyakan dari mereka, lagi-lagi menurut pendapat saya, tidak pernah menghargai orang muda dengan karya-karyanya. Bagi mereka, yang muda haruslah menghargai dan menghormati seniornya.

Begitu pun sebaliknya. Menurut saya, yang muda juga tak menghargai para seniornya. Jelaslah terlihat yang ada hanyalah saling mencela, mencibir, beroritentasi pada materi dan itu sudah menjadi sebuah karekter umum. Dan hukum yang berlaku adalah antara senior dan yunior. Justru yang harus dibangun adalah, bagaimana satu sama lain harus bisa saling menghargai dan menghormati tanpa melihat status.

Untuk bisa mengubah cara pandang, pola berpikir yang disebut paradigma, sama halnya seperti kacamata. Paradigma ini sangat mempengaruhi cara kita melihat segala sesuatu dalam hidup kita. Buat saya, dalam fotografi itu terdapat proses pendewasaan. Untuk bisa mencapai hal itu dalam berpikir dan berprilaku, sungguh membutuhkan waktu.

Untuk itulah, saya mendirikan sekolah fotografi. Materi yang kita berikan di sekolah ini tak sekadar teknik belaka. Tapi lebih dari itu misalnya, bagaimana cara mengendalikan hati, pikiran, mengamalkan ilmu, tidak berpikir secara kelompok tetapi lebih blending dan bersifat nasional. Bahkan kalau bisa mengglobal. Itu yang lebih penting.

Melebur dalam rasa dan komitmen profesi
Perubahan mindset tersebut pada hakikatnya merupakan berkah besar yang pada akhirnya bermanifestasikan dalam bentuk pola berpikir dan cara pandang yang lebih positif dalam bersikap dan hidup bermasyarakat.

Lalu, bagaimana cara kita membina hubungan baik dengan orang lain (di luar komunitas) agar hidup kita menjadi lebih menyenangkan? Nah, mungkin inilah yang harus kita coba latih bagaimana cara menghargai orang lain, komitmen pada profesi dan mengolah rasa sesama fotografer. Kuncinya hanya satu: buat orang lain merasa penting, berharga dan hidup bermasyarakat tanpa membawa predikat sebagai fotografer. Kita harus dikenal semua orang atau masyarakat secara menyeluruh. Mulai dari kepribadian yang baik, attitude, komitmen dan memegang teguh tanggungjawab profesi kita sebagai fotografer.

Mungkin pendapat saya ini sepertinya berlebihan. Tapi sejujurnya yang harus diingat adalah bahwa, kita hidup di negeri timur yang dituntut saling menghargai, ber“tepo seliro” dan bertingkah laku baik. Bila hidup di negeri barat, meski kita punya karya yang bagus tapi memiliki pola berpikir yang sempit dan tingkah laku yang minus, tidak akan dibicarakan oleh orang lain dan tidak terlalu dipersoalkan. Tapi karyanya yang mereka diskusikan.

Disitulah perbedaannya antara kehidupan fotografer di Indonesia dan di luar negeri. Meski saya pernah belajar fotografi di luar negeri dan banyak memberikan makalah seminar fotografi di luar negeri, bukan berarti saya bangga. Justru saya lebih senang berbagi ilmu kepada masyakarat Indonesia, kalau ingin belajar kepada saya soal fotografi. Buat apa saya memajukan negara lain, sedangkan di negeri ini masih membutuhkan pengetahuan fotografi?

Menurut saya, belajar fotografi yang dikaitkan dengan kehidupan, hanya ada di Indonesia. Saya sangat belajar dengan itu. Misalnya: bagaimana cara menghormati dan menghargai orang lain. Kita harus bisa hidup dan diterima ditengah masyarakat, bukan karena profesi kita. Tapi kita dikenal sebagai personal diri yang memiliki pola berpikir dewasa.

Saya masih ingat betul pengalaman menarik tahun 1986 ketika di Bandung bersama almarhum Bapak H. Boediardjo, mantan Menteri Penerangan Republik Indonesia (1968-1973). Saat itu, ada sebuah gathering komunitas fotografer, Bandung yang diprakarsai almarhum. Persoalan utama yang dibahas oleh almarhum adalah: bahwa fotografer itu tidak boleh hidup berkelompok. Atau mengkotak-kotakkan diri bahwa saya fotografer jurnalis, wedding, atau lainnya. Sebaiknya blending dengan komunitas lainnya sehingga satu sama lain bisa saling menghargai. Itulah ide almarhum yang sangat saya ingat.

Dari pengalaman itu saya berusaha untuk “keluar” dan mulai membaur dengan segala macam lapisan masyarakat tanpa membawa identitas saya sebagai fotografer. Saya mulai belajar akan kedewasaan hidup dari fotografi. Berbagi ilmu kepada masyarkat, meski hanya data teknis secara basic. Buat saya, memberikan data teknis bukanlah pembodohan. Akan tetapi dibalik itu yang lebih penting adalah bahwa setiap foto harus memiliki jiwa/soul. Hal itu baru bisa dilakukan kalau kita sudah pada tahap pengolahan rasa. Karena sebetulnya fotografi adalah: bicara cahaya. Dan cahaya itu harus kita coba, kita lihat, dan kita rasakan.

Minggu, 15 Februari 2009

budaya peranakan

Tak Ada Batas

Foto diambil pada tangga 26 januari 2009 pada perayaan imlek di klentheng Sam Po Kong, Semarang. Perkembangan budaya Tiong Hoa yang dilarang pada masa orde baru, semakin berkembang dan mulai diterima oleh masyarakat luas.


Indonesia yang dibentuk dari keanekaragaman budaya, semestinya bisa saling menerima, menghargai dan melestarikan, tanpa mesti ada tembok pembeda baik suku, agama, etnis, dan kondisilainnya.

Minggu, 25 Januari 2009

Serayu Rafting - Banjar Negara

Serayu Rafting

beberapa foto hasil liputan rafting, minggu, january, 18 2009. Bertempat di Serayu Rafting, Banjar negara..
bagi rekan2 yang berminat untuk memacu adrenaline, olahraga ini cocok buat lw semua anda :)

Cmon Juuump :)
Jeram#6
Jeram#5


Angkut Kapal

Jeram#4 

Jeram#2

Jeram#2

Jeram#1 
Serayu Rafting

Serayu Rafting

merdeka..!!!

Sejarah Jaman Kuna

Gaung 17-an telah menggema di seantero tanah air, mulai dari pedalaman, pesisir, pegunungan, hingga ke dusun-dusun yang nyaris tak pernah tersentuh kemajuan. Semua anak bangsa saling berlomba merayakannya, mulai dari baca puisi, karnaval, hingga upacara-upacara. Namun, seringkali kita lupa menyentuh roh dan maknanya. 17-an hanya sebatas dimaknai bagaimana agar suasana yang dibangun tampak rame, meriah, dan gemebyar. Semangat juang yang terkandung di dalamnya nyaris terlupakan.

Kerja Rodi
Derita Romusa



Add caption
Padahal, 63 tahun yang silam, para pejuang negeri ini mengorbankan jiwa dan raganya demi menjaga kehormatan dan martabat sebuah bangsa. Mereka yang telah tenang di alamnya, tentu akan merasa sedih menyaksikan kondisi Indonesia yang kini masih silang sengkarut. Korupsi makin menjadi-jadi bagaikan gunung es –jika tutupnya dibuka mungkin seperti kotak pandora– angka kriminal tak juga drop, kemiskinan hampir mencapai 50 juta jiwa, pengangguran masih menguasai sebagian besar kaum muda kita. Quovadis bangsa kita pasca 62 tahun merdeka?


Para pahlawan kita itu tentu tak ingin latah namanya selalu disebut-sebut. Prasasti Tuhan telah mengabadikannya di sebuah tempat yang nyaman dan beraroma wangi yang dikelilingi para bidadari syurga. Mereka sudah tidak punya pamrih apa pun. Yang mereka inginkan adalah menyaksikan negeri yang dulu telah diperjuangkannya menjadi sebuah bangunan negeri yang sejak dulu diimpikan: “gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja” (negeri yang subur dan makmur, serba tenteram, dan sejahtera).

Dalang Joko
Namun, agaknya para kusuma bangsa kita yang telah damai di alamnya sana bisa jadi tak kuasa menahan tangis dan haru tatkala menyaksikan negeri yang dulu diperjuangkan telah banyak dihuni manusia-manusia rakus, besar kepala, mau menang sendiri, suka dendam dan cakar-cakaran, dan miskin kepekaan

foto yang ingin gw share,,
perayaaan di desa Bobosan,, yang menurut gw masih semangat 45 sekali:)
semoga berkenan..

Selasa, 20 Januari 2009

play with the light

Some People Called Mini Studio :)
 
Untuk foto di folder ini, gw cuman pake lampu belajar tambah kertas karton yang gw tekuk dibelakang. pasang ISO tinggi, langsung gasss poooll, 

Cekrek
Fresh One



Red One
Strawbery One

just shoot

single photoshoot
Single PhosoShoot sii, dari artiny jg pasti lw smua uda tau kalo ini emang folder buat pamer foto sendiri tapi bukan sepi #apaa siii :D
Hiduplah Indonesia Raya
Buble
Sunset



Single

StreetShoot

Anti Gravity




Rabu, 07 Januari 2009

cerita di antara euforia 08-09


Pa Riman

Beliau bernama Pa Riman, dan istrinya bernama Bu Narsi. Mereka berasal dari kecematan Bulukerto Wonogiri, yang sehari-hari berprofesi sebagai petani sawah biasa di desa tempat tinggalnya. Dilihat dari latar belakangnya, sekilas mungkin tidak ada hal yang menarik. hanya penjual terompet 'kagetan' biasa, yang menjamur seperti halnya yang lainnya.

Ibu - Anak - Cucu
Tapi setelah memulai mengajak bapa berbincang, ada hal menarik yang membuat gw mau sedikit berlama-lama mendengarkan si bapa bercerita.

Pa Riman
Cucu

Dari cerita bapa, mayoritas penduduk disana memang dikenal sebagai pengrajin terompet.dan sudah menjadi tradisi, di bulan ke 6 mereka sudah mulai sibuk membuat berbagai macam kerajinan terompet, untuk kemudian dipasarkan ke berbagai kota di jawa. Bandung, Surabaya, dan beberapa kota besar lainnya. Tidak melalui perantara, tetapi langsung tersebar secara berkelompok. Di purwokerto, bapa tidak sendiri. ada sekitar 20 orang yang juga penjual terompet lain, tersebar di sepanjang jalan jenderal soedirman ini yang termasuk dalam rombongan bapa. Mereka datang dengan menyewa mobil dan truk, yang dari cerita si bapa, menghabiskan modal hingga lebih dari 6 juta rupiah untuk pulang dan pergi. disini mereka tinggal di sebuah kontrakan kecil seharga 500 ribu, bersama 10 orang lainnya selama kurang lebih 10 hari.

Dari terompet yang dipasarkan dengan harga sekitar 15-40 ribu, keuntungan yang diraup kelompok ini, bisa mencapai 100%, yang tentu saja itu dibagi2 dengan ke-20 orang lainnya.

foto gw take tanggal 31 Desember kurang lebih pukul 16.00, di slh satu sudut jalan jend soedirman di acara ECOLENS hunting purwokerto 24 jam..