Rabu, 07 Januari 2009

cerita di antara euforia 08-09


Pa Riman

Beliau bernama Pa Riman, dan istrinya bernama Bu Narsi. Mereka berasal dari kecematan Bulukerto Wonogiri, yang sehari-hari berprofesi sebagai petani sawah biasa di desa tempat tinggalnya. Dilihat dari latar belakangnya, sekilas mungkin tidak ada hal yang menarik. hanya penjual terompet 'kagetan' biasa, yang menjamur seperti halnya yang lainnya.

Ibu - Anak - Cucu
Tapi setelah memulai mengajak bapa berbincang, ada hal menarik yang membuat gw mau sedikit berlama-lama mendengarkan si bapa bercerita.

Pa Riman
Cucu

Dari cerita bapa, mayoritas penduduk disana memang dikenal sebagai pengrajin terompet.dan sudah menjadi tradisi, di bulan ke 6 mereka sudah mulai sibuk membuat berbagai macam kerajinan terompet, untuk kemudian dipasarkan ke berbagai kota di jawa. Bandung, Surabaya, dan beberapa kota besar lainnya. Tidak melalui perantara, tetapi langsung tersebar secara berkelompok. Di purwokerto, bapa tidak sendiri. ada sekitar 20 orang yang juga penjual terompet lain, tersebar di sepanjang jalan jenderal soedirman ini yang termasuk dalam rombongan bapa. Mereka datang dengan menyewa mobil dan truk, yang dari cerita si bapa, menghabiskan modal hingga lebih dari 6 juta rupiah untuk pulang dan pergi. disini mereka tinggal di sebuah kontrakan kecil seharga 500 ribu, bersama 10 orang lainnya selama kurang lebih 10 hari.

Dari terompet yang dipasarkan dengan harga sekitar 15-40 ribu, keuntungan yang diraup kelompok ini, bisa mencapai 100%, yang tentu saja itu dibagi2 dengan ke-20 orang lainnya.

foto gw take tanggal 31 Desember kurang lebih pukul 16.00, di slh satu sudut jalan jend soedirman di acara ECOLENS hunting purwokerto 24 jam..

10 komentar: