Senin, 08 Februari 2010

Mempertanyakan [kembali] peran media

Merdeka !!
Gw hanya seorang pembaca dan penikmat berita, masyarakat biasa dengan rutinitas pagi-sore berangkat-pulang kerja, dengan hobi kumpul-kumpul, bercanda bersama teman dan keluarga. Ini mungkin bisa jadi pendapat pribadi atau jadi pendapat kebanyakan manusia di negeri tercinta ini..

Politik, SARA, Ekonomi, Hukum, HAM, Korupsi, Skandal, bisa jadi ini topik yang paling hobi diulas oleh para pewarta. Dari materi berisi kritik sosial, kritik pemerintah, sampai yang tidak bernilai edukasi seperti gossip, skandal dan criminal (sekali lagi, penilaian ini bisa jadi hanya pendapat pribadi)..

Indonesiaaaa, tanah air kuu
Bahkan untuk acara hiburan dan film televisi, gw pernah mendengar seloroh yang mengatakan, guru anak kita adalah sinetron. Terdengar miris, tapi kenyataanya ini lah yang terjadi di negeri ini..

Jika kita menilai dari sudut pandang positif, memang tidak bisa dikecilkan peran dari media-media ini. Baik cetak atau Elektronik, perlu disyukuri dengan peredaran informasi yang cepat, tentu membawa dampak baik bagi perkembangan pendidikan masyarakat.

Namun akan sangat disayangkan, jika perkembangan teknologi dan teknologi informasi, tidak dibarengi dengan perkembangan ‘selera’ masyarakat. Seingat gw, masih belum berbeda dengan 10 tahun lalu saat sinetron ber episode hingga mencapai 4 digit, menjadi tontonan wajib bagi ibu-ibu, bahkan di komplek perumahan elit sekalipun. Dan parahnya, media dan industry pertelevisian mendukung ini. Gw bukan seorang anti sinetron, bukan juga pembenci infotainment. Sekedar sebagai asupan hiburan, tentu materi-materi seperti ini cukup menghibur..

Yang tidak berimbang hanya saja porsi dari content acara tersebut, yang kadang kebabalasan. Bagaimana menjadi Negara besar dengan rakyat berpemikiran intelektual, dan bagaimana pula menjadi rakyat yang damai bersahaja jika media yang pencuci otak paling sophisticated ini pun menyediakan materi tontonan yang kurang edukatif.

Bangs*t Negara
Terkadang gw jadi lebih tertarik membaca berita di forum-forum atau situs komunitas local yang justru disitu banyak mengulas, dan memberitakan informasi update mengenai prestasi Indonesia di mata dunia, prestasi anak bangsa, dan banyak materi lain yang menghibur. Dari anak jenius yang mendapat banyak penghargaan dari dunia luar, penemu-penemu Indonesia yang inovasinya bahkan diakui dunia, perkembangan teknologi terbaru, hingga informasi lifestyle yang memberikan beberapa referensi tujuan travel di Indonesia yang tidak kalah dengan tempat wisata, bahkan di luar negeri. Semua itu bisa gw dapat hanya di forum dan komunitas yang tentu saja hanya bisa diketahui oleh kalangan terbatas. Tapi bagaimana dengan kebutuhan informasi sebagian besar masyarakat lainnya? Apa mereka tidak berhak tahu? Atau bahkan justru media sendiri yang tidak ingin tahu dengan urusan ‘mencerdaskan’ masyarakatnya itu?

Jangan pernah kau gigit sesuatu yang tidak bisa kau kunyah. Quote yang pernah gw dengar dari Mario Teguh, salah satu motivator favorit gw. Atau dengan penjelasan sederhana, bahwa sebaiknya jangan kau nilai sesuatu jika tidak kau mengerti betul duduk permasalahannya. Yang terjadi di media sekarang ini justru sebaliknya. Opini public yang terbentuk dari berita yang berkali-kali disiarkan, membuat semua orang ‘merasa’ sudah pandai untuk menilai, menghukum, bahkan menghujat tokoh atau professional yang mereka ‘rasa’ telah berbuat sewenang-wenang.

Coba lw nyalain tv lo skrg, gw yakin materi berita dan tontonan hari ini, tidak jauh dengan dengan topic yang sudah Gw sampaikan panjang lebar kali tinggi di atas tadi. Dan sialnya, porsi berita terkadang tidak berimbang. Bahkan terkadang terlalu menyudutkan.

Lalu kapan putra – putri berprestasi Indonesia, mendapat giliran di beritakan di media? Kapan penemuan putra-putri bangsa di siarkan ke pelosok negeri dengan porsi yang mestinya lebih banyak daripada sinetron dan infotainment? Kapan teknologi dan inovasi dan bagaimana negeri ini kita bangga dengan negerinya sendiri, jika masih saja dijejali tontonan dan berbagai hal yang berbau asing? Lebih bangga dengan memakai produk luar negeri, latah dengan gadget elektronik yang iklan komersialnya terpampang di tiap sudut. Apa tempat mereka hanya ada di sudut ruang gelap forum kalangan terbatas saja?

Impian gw sebagai warga negara Indonesia sederhana aja. Melihat anak cucu kita bisa bangga dengannegeri dan tempat kelahirannya nanti. INDONESIA. Bukan mereka malu karena ketidakberesan birokrasi pemerintahan, bukan malu karena pertikaian, bukan malu karena ke anarkiasan masyarakatnya, bukan malu karena mestinya kita malu karena mereka malu karena ketidaktahuan mereka dan kita yang tidak berbuat apa-apa untuk membenahinya..

Tapi kapan??
Mungkin lw semua lebih tahu..

#AW

Tidak ada komentar:

Posting Komentar