Biasanya kalo udah ngomongin cinta, semua hal didalamnya emang pasti bikin buta. Mau orang lain bilang itu tai kucing, pasti akan selalu berasa coklat. Dan kalo memang kita mengartikan cinta adalah rasa menggebu-gebu, keringat dingin, deg-degan,
susah tidur, romantic dinner dengan lilin,
berpandang2an semalaman, dan buket bunga mawar, maka cinta
harus mati. Dan akan mati.
Tahap “infatuation”, “passionate love”, atau saat-saat awal manusia jatuh
cinta dan tergila-gila, secara neuroscience tidak ada bedanya dengan
kondisi “high on drugs”. Otak kita dibanjiri hormon-hormon yang memberi
rasa senang melayang. Tidak ada bedanya mungkin dengan efek narkoba.
Masalahnya yang namanya “high” itu tidak
bisa dipertahankan terus2an secara perspektif medis. Otak harus kembali
ke equilibriumnya. Di buku “Happiness Hypothesis” oleh Jonathan Haidt
disebutkan, saat passionate love padam, di sinilah tragedi cinta sering
terjadi. Karena kita kemudian mengira “high” itulah keadaan cinta sejati. Dan
hilangnya “high” itu membuat kita mengira cinta sudah mati. Untuk
selamanya. Dan kemudian kita mencari cinta baru yang bisa memberikan
“high” itu.
Cinta memang harus mati. Karena dia harus memberi tempat untuk
lahirnya sang pengganti, yaitu cinta lain yang tidak memabukkan, tetapi
memberi rasa tentram, aman, dan “companionship” (gak ada kata yang tepat
untuk menterjemahkan “companionship”, karena ‘pertemanan’ dan
‘persahabatan’ juga kurang pas. Kalo gw boleh bikin kata sendiri, yang
pas itu ‘perpendampingan’, dari kata ‘pendamping’)
Dan dalam cinta fase kedua inilah, menurut Jonathan Haidt, sebuah
hubungan menjadi lebih tahan lama, dan membahagiakan. Dalam
perpendampingan sudah tidak ada mabuk atau “high” yang ‘seru’ seperti di
film-film romantis, dan ia menjadi ekuilibrium itu sendiri.
‘Cinta’ memang harus mati. Masalahnya, apakah kita sabar menantikan reinkarnasinya.
disadur dari buku Cinta [Tidak Harus] Mati, Henry Manampiring
Kamis, 14 Februari 2013
Who, or What are you falling in love with?
After so many years observing people (and myself!) in the complicated
game of love, I can say this: often times, you don’t fall in love with a
person. You fall in love with something else.
Most often, people fall in love with their own imagination of the perfect man/woman. You meet somebody, you barely know him/her, and then you start imposing your own ideals of a soulmate onto the person. Problem begins when the illusion starts to shatter, and you start to see ‘the real him/her’. And tragically, you accuse the person of ‘having changed’ – although it was your own eyes which finally opened.
Often times, people fall in love not with a person, but a “way out”. You are feeling lonely, you just don’t want to be alone and miserable, and you see this person as a ‘solution’. Then, you are falling in love with the solution to your problem, not with a person.
Some people fall in love with “agenda”. You have made plans for your life: when to find a partner, when to get married, when to have children, etc. And then you see this person as the fulfilment of your life’s “Outlook calendar”. Again, you are falling in love with your life schedule, not with a person.
Some others fall in love with “therapy”. You were broken inside, you have mental scars, you have childhood trauma. And then you find this person whom you think can cure you. Then, you are falling in love with the therapy for your own soul illness, not with a person.
And few lucky ones, find that one person, see his/her true soul, and fall in love. Few lucky ones, fall in love, with a person.
disadur dari buku Cinta [Tidak Harus] Mati, Henry Manampiring
Most often, people fall in love with their own imagination of the perfect man/woman. You meet somebody, you barely know him/her, and then you start imposing your own ideals of a soulmate onto the person. Problem begins when the illusion starts to shatter, and you start to see ‘the real him/her’. And tragically, you accuse the person of ‘having changed’ – although it was your own eyes which finally opened.
Often times, people fall in love not with a person, but a “way out”. You are feeling lonely, you just don’t want to be alone and miserable, and you see this person as a ‘solution’. Then, you are falling in love with the solution to your problem, not with a person.
Some people fall in love with “agenda”. You have made plans for your life: when to find a partner, when to get married, when to have children, etc. And then you see this person as the fulfilment of your life’s “Outlook calendar”. Again, you are falling in love with your life schedule, not with a person.
Some others fall in love with “therapy”. You were broken inside, you have mental scars, you have childhood trauma. And then you find this person whom you think can cure you. Then, you are falling in love with the therapy for your own soul illness, not with a person.
And few lucky ones, find that one person, see his/her true soul, and fall in love. Few lucky ones, fall in love, with a person.
disadur dari buku Cinta [Tidak Harus] Mati, Henry Manampiring
Betapa Sayangnya "Sayang"
“Cowok itu ganteng sih, baik pula, sayang penampilannya nggak banget”
“Dia pintar dan cantik, sayang ngerokok”
“Sebenernya dia udah suka sama gw, siap nikah pula, sayang dia kalo ngomong agak gagap”
Pasti udah sering deh denger kalimat di atas, dalam berbagai variasinya, iya kan? Formulanya biasanya:
(Sederet sifat baik yang menjadikan seseorang potensial jadi pacar/suami/istri) + sayang + (satu dua sifat jelek yang membuyarkan segalanya)
Posting ini terinspirasi twitter @louisajhe tadi pagi: “Just found out that handsome-elevator-dude is an active smoker :’(“ Jadi rupanya ada cowok kecengan yang selama ini di-ilerin di lift, jadi buyar karena ketauan merokok (Hi Jessica, kalo elu baca ini, maaf gw quote tanpa ijin :p)
Kayaknya inilah kodrat manusia, yang selalu mencari pasangan sempurna, sayang pencarian ini sering rontok karena ada ‘sayang’ dalam menilai seseorang
Tentunya gw bukannya tidak setuju bahwa seseorang harus punya kriteria dalam memilih pasangan, apalagi kalau sudah menjelang serius. Kita semua berhak mendapatkan seseorang berkualitas, dan yang cocok dengan kita. Mungkin masalahnya adalah ketika daftar kriteria kita tidak membedakan mana yang sifatnya “wajib” (must have), dan mana yang bisa dikompromikan (nice to have).
Soalnya kalau nguber Mr. dan Ms. Perfect yang memenuhi semua kriteria yang diinginkan, agak susah ya probabilitanya, apalagi kalo kriterianya semakin spesifik (“Gw hanya mau cowok yang bisa bikin 1000 candi dalam semalem”, misalnya) Ya bisa aja sih ketemu in real life, tapi seberapa besar peluangnya?
Gw pernah baca di buku “The Paradox of Choice” oleh Barry Schwartz, bahwa ada dua jenis manusia. Yang satu disebut “Maximizers”, yang satu lagi “Satisficers”. Maximizers beranggapan bahwa dalam mendapatkan segala sesuatu (dari setrikaan, rumah, sampai pacar) mereka harus mendapatkan yang TERBAIK (maksimum), dan ini berarti melakukan proses pencarian yang lebih niat dan ketat, untuk mendapatkan hasil akhir terbaik. Satisficers, di sisi lain, juga melakukan usaha mencari dan punya kriteria, tetapi tidak merasa perlu ngotot. Ketika mereka mendapatkan apa yang dirasakan “cukup baik”, ya sudah, berhenti mencari dan happy dengan yang didapat.
Berdasarkan studi yang dikutip di buku itu, Maximizers mungkin akhirnya MEMANG mendapatkan barang/orang yang TERBAIK. Tetapi proses pencarian yang begitu melelahkan akhirnya membuat kenikmatan akhir menjadi berkurang, dan akhirnya tidak terlalu happy. Satisficers yang tidak terlalu ngoyo mendapatkan yang “less”, tetapi kebahagiaan akhirnya malah lebih tinggi. Kurang lebih formulanya adalah:
Kebahagiaan akhir dari mendapatkan sesuatu = Nilai dari obyek yang diperoleh – Jerih Payah untuk mendapatkannya
Bayangkan skenario mencari LCD TV. Si Maximizer meneliti dan mencoba 100 model TV untuk mendapatkan yang terbaik, dan akhirnya sesudah itu memang mendapatkan TV sempurna bernilai “10”. Satisficer mungkin hanya mencoba 15 TV, dan cukup hepi mendapatkan TV bernilai “7/8”. Pada akhirnya, si Satisficer malah mungkin lebih hepi dan puas dengan TV-nya, karena tidak selelah si Maximizer.
Kembali ke pencarian pacar. Mencari Mr./Ms. Perfect juga tentunya lebih melelahkan dan panjang (walaupun mungkin ada beberapa yang hokkie langsung dapet
), tetapi sayang juga kalau pengejaran Mr./Ms. Perfect ini malah mengorbankan Mr./Ms. Very Good yang sudah ada di depan mata…. 
dicopy paste dari buku Cinta [Tidak Harus] Mati, Henry Manampiring
menghormati 14/02 yang bagi sebagian orang adalah hari kasih sayang, buat saya hari ini adalah hari mendedikasikan diri posting tulisan-tulisan cinta. Melow banget kan? :D
beberpa post kedepan khusus hari ini, yang sudah saya baca dari beberapa artikel, sekaligus bisa menambah perbendaharaan kamus kisah cinta kita semua :)
“Dia pintar dan cantik, sayang ngerokok”
“Sebenernya dia udah suka sama gw, siap nikah pula, sayang dia kalo ngomong agak gagap”
Pasti udah sering deh denger kalimat di atas, dalam berbagai variasinya, iya kan? Formulanya biasanya:
(Sederet sifat baik yang menjadikan seseorang potensial jadi pacar/suami/istri) + sayang + (satu dua sifat jelek yang membuyarkan segalanya)
Posting ini terinspirasi twitter @louisajhe tadi pagi: “Just found out that handsome-elevator-dude is an active smoker :’(“ Jadi rupanya ada cowok kecengan yang selama ini di-ilerin di lift, jadi buyar karena ketauan merokok (Hi Jessica, kalo elu baca ini, maaf gw quote tanpa ijin :p)
Kayaknya inilah kodrat manusia, yang selalu mencari pasangan sempurna, sayang pencarian ini sering rontok karena ada ‘sayang’ dalam menilai seseorang
Tentunya gw bukannya tidak setuju bahwa seseorang harus punya kriteria dalam memilih pasangan, apalagi kalau sudah menjelang serius. Kita semua berhak mendapatkan seseorang berkualitas, dan yang cocok dengan kita. Mungkin masalahnya adalah ketika daftar kriteria kita tidak membedakan mana yang sifatnya “wajib” (must have), dan mana yang bisa dikompromikan (nice to have).
Soalnya kalau nguber Mr. dan Ms. Perfect yang memenuhi semua kriteria yang diinginkan, agak susah ya probabilitanya, apalagi kalo kriterianya semakin spesifik (“Gw hanya mau cowok yang bisa bikin 1000 candi dalam semalem”, misalnya) Ya bisa aja sih ketemu in real life, tapi seberapa besar peluangnya?
Gw pernah baca di buku “The Paradox of Choice” oleh Barry Schwartz, bahwa ada dua jenis manusia. Yang satu disebut “Maximizers”, yang satu lagi “Satisficers”. Maximizers beranggapan bahwa dalam mendapatkan segala sesuatu (dari setrikaan, rumah, sampai pacar) mereka harus mendapatkan yang TERBAIK (maksimum), dan ini berarti melakukan proses pencarian yang lebih niat dan ketat, untuk mendapatkan hasil akhir terbaik. Satisficers, di sisi lain, juga melakukan usaha mencari dan punya kriteria, tetapi tidak merasa perlu ngotot. Ketika mereka mendapatkan apa yang dirasakan “cukup baik”, ya sudah, berhenti mencari dan happy dengan yang didapat.
Berdasarkan studi yang dikutip di buku itu, Maximizers mungkin akhirnya MEMANG mendapatkan barang/orang yang TERBAIK. Tetapi proses pencarian yang begitu melelahkan akhirnya membuat kenikmatan akhir menjadi berkurang, dan akhirnya tidak terlalu happy. Satisficers yang tidak terlalu ngoyo mendapatkan yang “less”, tetapi kebahagiaan akhirnya malah lebih tinggi. Kurang lebih formulanya adalah:
Kebahagiaan akhir dari mendapatkan sesuatu = Nilai dari obyek yang diperoleh – Jerih Payah untuk mendapatkannya
Bayangkan skenario mencari LCD TV. Si Maximizer meneliti dan mencoba 100 model TV untuk mendapatkan yang terbaik, dan akhirnya sesudah itu memang mendapatkan TV sempurna bernilai “10”. Satisficer mungkin hanya mencoba 15 TV, dan cukup hepi mendapatkan TV bernilai “7/8”. Pada akhirnya, si Satisficer malah mungkin lebih hepi dan puas dengan TV-nya, karena tidak selelah si Maximizer.
Kembali ke pencarian pacar. Mencari Mr./Ms. Perfect juga tentunya lebih melelahkan dan panjang (walaupun mungkin ada beberapa yang hokkie langsung dapet
dicopy paste dari buku Cinta [Tidak Harus] Mati, Henry Manampiring
menghormati 14/02 yang bagi sebagian orang adalah hari kasih sayang, buat saya hari ini adalah hari mendedikasikan diri posting tulisan-tulisan cinta. Melow banget kan? :D
beberpa post kedepan khusus hari ini, yang sudah saya baca dari beberapa artikel, sekaligus bisa menambah perbendaharaan kamus kisah cinta kita semua :)
Selasa, 12 Februari 2013
By My Side
I'm just listenin' to the clock go tickin'
I am waiting as the time goes by.
I think of you with every breath I take,
I need to feel your heart be next to mine.
You're all I see, in everything.
I just wanna hold you,
I just wanna kiss you,
I just wanna love you all my life.
I normally wouldn't say this,
but I just can't contain it.
I want you here forever,
right here by my side.
All the fears you feel inside,
and all the tears you cry,
they're ending right here.
I'll heal your heart and soul;
I'll keep you oh so close.
Don't worry; I'll never let you go.
You're all I need, you're everything.
I just wanna hold you,
I just wanna kiss you,
I just wanna love you all my life.
I normally wouldn't say this,
but I just can't contain it.
I want you here forever,
right here by my side.
No one else would ever do.
I got a stubborn heart for you.
Call me crazy, but it's true; I love you.
I didn't think that it would be,
you have made it clear to me.
You're all I need.
I just wanna hold you,
I just wanna kiss you,
I just wanna love you all my life.
I normally wouldn't say this,
but I just can't contain it.
I want you here forever,
right here by my side.
I am waiting as the time goes by.
I think of you with every breath I take,
I need to feel your heart be next to mine.
You're all I see, in everything.
I just wanna hold you,
I just wanna kiss you,
I just wanna love you all my life.
I normally wouldn't say this,
but I just can't contain it.
I want you here forever,
right here by my side.
All the fears you feel inside,
and all the tears you cry,
they're ending right here.
I'll heal your heart and soul;
I'll keep you oh so close.
Don't worry; I'll never let you go.
You're all I need, you're everything.
I just wanna hold you,
I just wanna kiss you,
I just wanna love you all my life.
I normally wouldn't say this,
but I just can't contain it.
I want you here forever,
right here by my side.
No one else would ever do.
I got a stubborn heart for you.
Call me crazy, but it's true; I love you.
I didn't think that it would be,
you have made it clear to me.
You're all I need.
I just wanna hold you,
I just wanna kiss you,
I just wanna love you all my life.
I normally wouldn't say this,
but I just can't contain it.
I want you here forever,
right here by my side.
By My Side - David Choi
Selasa, 15 Januari 2013
mobil listrik, mobil nasional??
![]() |
| Indonesia |
Beberapa bulan terahir, kabar di Indonesia ramai dengan diperkenalkannya mobil listrik buatan anak negeri. Mobil yang pertama kali diperlihatkan melalui sosok fenomenal di banyak pemberitaan nasional Dahlan Iskan, sejak awal memang sudah bikin heboh. Banyak yang mencibir, mendukung, bahkan ada juga yang pesemis dengan cita-cita beliau.
Mobil listrik seingat saya, hanya dimulai dari tulisan pendek Pak Dahlan. Populer dengan judul "Manufacturing Hope", semacam CEO Notes PLN saat beliau menjadi Menteri. saya pribadi tidak menyangka, tulisan pendek berisi ajakan itun akhirnya di follow up 5 orang putra putir-beliau menyebutnya. Siapa saja orang-orang itu, dan seperti apa mobil listrik mereka, tidak saya bahas disini. Media cetak dan online sepertinya sudah ratusan kali memberitakanya.
Dan setelah kecelakaan Tuxuci yang diikuti kemunculan banyak statement negatif mengenai Dahlan Iskan dan mobil listrik, Saya tertarik ikutan ngepost, ngomongin mobil-mobil(an) ini.
Mobil listrik di Indonesia? Apa perlu kita bangga?
Sebelum sampai menjawab pertanyaan ini, saya pengen share sedikit tentang apa yang saya tau dengan beberapa spesifikasi mobil yang ada dipasar sekarang ini. Terus apa beda mobil berbahan bakar minyak, mobil hybrid sama mobil listrik, kita coba kupas 1-1.
Mobil berBBM #sudah jelas.
Mobil Hybrid #singkat cerita, mobil ini tetap punya 1 penggerak namun menggunakan kombinasi dari motor listrik dan pembakaran BBM. Dengan memaksimalkan kekuatan dari kedua sumber daya tersebut disamping saling mengisi kekuranganya, hasilnya adalah efisiensi konsumsi bahan bakar dengan performa yang luar biasa.
1. Efisiensi bahan bakar yang lebih besar
2. Rendah Emisi
3. Pengurangan energi yang terbuang dan regenerasi energi
Mobil Listrik, #mobil berpenggerak tenaga listrik. baterai menjadi sumber daya utama mobil ini. Pemakaian gearbox dan tanpa gearbox, masih menjadi pilihan masing-masing ahli. Dan lebih lanjut untuk pembahasan yang satu ini, selain menjadi tagline dalam judul pembahasan post, akan saya bahas panjang lebar kali tinggi. Dan beberapa produsen besar dunia, seperti Nissan, Daimler, atau Toyota sudah lebih dulu memperkenalkan mobil listrik keluaran mereka belum lama ini. Mobil litrik memang belum populer di kalangan produsen mobil atau masyarakat luas, namun tren yang berkembang dengan konsep efisiensi bahan bakar dan go green yang ditanamkan ke mobil-mobil masa depan, saya rasa penggunaan mobil listrik akan semakin populer.
National geographic di salah satu acaranya, MegaFactory-SuperCar, pernah membahas tentang mobil listrik komersil pertama di Amerika. Ya, bahkan di negeri adidaya ini baru memulai memproduksi mobil listrik secara masal pada tahun 2012. Perusahaan ini bernama Tesla yang berdiri sejak 2009 berlokasi di sentra insdustri di Florida. Sejak awal berdiri, Tesla melalui web resmi nya, sudah concern hanya akan memproduksi mobil bertenaga listrik. Dan bagaimana perusahaan ini memasarkan produk pertamanya, bikin saya kagum. Sebelum berbusa-busa begini ni penampakan Tesla Model-S yang 1001% bertenaga listrik.
![]() |
| Model-S - www.digitaltrends.com |
![]() |
| Tesla - Roadster - www.greencarreport.com |
Pemasaran yang dilakukan Tesla dalam memperkenalkan masterpiecenya, memang dimulai dan diawali dari roadshow pameran ke pameran. Baik pameran otomotif internasional dan lokal yang diadakan disana. Mereka memperkenalkan sekaligus memperlihatkan kepada dunia, bahwa mereka 'bisa'. Walaupun saat itu baru sebatas concept car, dengan kemudian memelihara word of mouth-nya agar semakin dikenal oleh khalayak umum, sampai pada akhirnya mengeluarkan mobil komersial pertama mereka dengan Model-S nya.
Model-S, seperti layaknya produsen kaos yang dijual di Kaskus (sepertinya saya terlalu mendewakan FJB Kaskus, sampai produsen kaos aja saja disamakan dengan Tesla :D ) Tesla menjual dengan memberlakukan Pre-Order. Kepercayaan yang ditumbuhkan terlebih dahulu, memperbanyak event testdrive di kota-kota besar, membuat perusahaan ini mendapatkan pre-order hingga 200 unit dan harus memenuhi dateline pada Januari 2013 ini.
![]() |
| Tuxuci - www.batampos.co.id |
Apakah kita perlu bangga?? untuk pertanyaan ini mungkin kita semua lebih tau harus bagaimana bersikap dengan sedikit cerita yang saya share sebelumnya. Kalupun masih ragu, saya rasa akan lebih berfaedah dengan cukup tidak memberikan reaksi negatif (baca : ngumpat, nyela, sinis). Karena pimikiran negatif, akan menimbulkan reaksi yang negatif, dan reaksi yang negatif, tidak akan menghasilkan apapun selain penyakit hati. Mengutip quote pak DI, bahwa pesimis pribadi memang menjadi hak asasi manusia. Namun pesimis massal akan berakibat menghancurkan. #AW
Langganan:
Postingan (Atom)



